Pendidikan, Krisis Ekonomi dan Kejahatan Internet
Yang menarik, disinyalir bahwa pelaku kejahatan internet ini sebagian besar adalah pakar IT yang mereka sebut dengan Internet Crooks yang kehilangan pekerjaan atau di-phk perusahaan karena krisis ekonomi yang sedang melanda Amerika.
Saya juga pernah membaca cerita seorang pakar IT yang di-phk dan jadi pengangguran. Sebelum di-phk, dia bisa menghasilkan kurang lebih 200 ribu dollar per tahun. Karena di-phk, semua beban belanja keluarga akhirnya harus ditanggung sang istri yang hanya bisa menghasilkan 40 ribu dollar per tahun.
Saya juga pernah membaca cerita seorang pakar IT yang di-phk dan jadi pengangguran. Sebelum di-phk, dia bisa menghasilkan kurang lebih 200 ribu dollar per tahun. Karena di-phk, semua beban belanja keluarga akhirnya harus ditanggung sang istri yang hanya bisa menghasilkan 40 ribu dollar per tahun.
Ada beberapa hal yang menarik bagi saya di sini.
Pertama, pendidikan tidak cukup hanya dengan mengajarkan keterampilan dan pengetahuan kepada peserta didik. Pendidikan juga harus didasarkan pada penanaman nilai integritas kemanusiaan yang baik. Peserta didik tidak cukup hanya disuguhi dengan ide hubungan antara pendidikan tinggi dan penghasilan banyak. Mereka juga mesti diperkenalkan kepada nilai-nilai moral. Sehingga dalam kondisi sulit, ilmu dan keahlian mereka tidak dengan mudah digunakan untuk kejahatan.
Kedua, pendidikan semestinya menghasilkan orang-orang kreatif dan memiliki kemampuan ganda, bukan hanya kemampuan tunggal dan tidak kreatif. Sehingga peserta didik mempunyai kemampuan adaptasi hidup yang tinggi. Tidak seperti ahli IT dalam cerita di atas.
Ketiga, apa yang dialami ahli IT di atas dan apa yang dilakukan para penjahat IT merupakan bukti kegagalan kapitalisme. Kapitalisme telah mematikan usaha-usaha informal, seperti pedagang kaki lima yang ada di negara kita. Bahkan di negara kita sendiri, mereka telah merampas pekerjaan banyak orang dengan membangun mall di mana-mana.
Orang-orang terdidik dimasukkan ke dalam sistem yang sangat hirarkis di mana orang-orang berduit (kapitalis) menjalankan aksi eksploitasi. Nah, saat ekonomi para kapitalis tidak produktif lagi, orang-orang yang berkeja di bawah mereka tidak tahu mau ke mana dan berbuat apa. Jalan akhir yang mereka pilih, karena tekanan kebutuhan hidup, mereka menggunakan keahlian mereka untuk melakukan kejahatan.


Post a Comment