07 February 2010

Ketika Perguruan Tinggi Menjadi "Mall"

Empat orang mahasiswa muka ceria di tahun ajaran baru menunggu sang professor menyampaikan materi kuliah di hari pertama. Setengah jam kemudian, mahasiswa itu gelisah dan memutuskan berangkat bersama mencari tahu tentang kabar sang professor yang tak kunjung datang.

Tiba di bagian kemahasiswaan, terdengar berita bahwa kelas "favorit" itu dibatalkan karena jumlah mahasiswa "pembelinya" tidak mencukupi batas minimal yang ditetapkan pihak universitas.

Ketiga mahasiswa tersebut diarahkan menemui langsung sang professor di ruang kerjanya. Muka suram, mata berkaca-kaca tergambar dari raut wajah sang professor yang selama ini selalu terlihat ceria. Professor yang dikenal cerdas dan kredibel dalam bidangnya itu berkali-kali mengucapkan kata "maaf".

Rupanya, dia tak menyangka bahwa mata kuliahnya tidak laku "terjual".

Kepuasan Paling Penting

Mata kuliah dalam sistem pendidikan yang menganut sistem pasar tak ubahnya barang pajangan di pusat-pusat belanja. Hanya barang yang manarik selera pembeli akan laku. Laku atau tidaknya pun ditentukan banyak faktor.

Tetapi aspek yang paling menentukan adalah tingkat kenikmatan dan kepuasan.

Apabila masyarakat pembelinya terdiri dari orang-orang berekonomi lemah, berselera tinggi, yang dicari barang paling murah dengan harapan kualitas tinggi. Pelanggan berduit mencari barang yang punya nilai dan cita rasa yang menggambarkan kelas sosialnya.

Rupanya mata kuliah pun demikian. Mahasiswa punya kecenderungan memilih mata kuliah yang mudah dapat nilai. Soal kualitas urusan belakang. Apalagi, mata kuliah yang berkualitas biasanya susah dapat nilai baik. Kalau pun bisa dapat nilai baik, harus bekerja keras. Akibatnya, sebaik apapun kualitas suatu mata kuliah; diajarkan seorang professor punya kredibilitas tinggi dalam bidangnya, tidak akan laku terjual. Sebab, dianggap tidak dapat mendatangkan kesenangan maksimal.

Kesenangan maksimal bagi mahasiswa adalah proses belajar yang tidak membebani sama sekali. Pada saat yang sama, tidak sulit mendapatkan nilai sangat baik.

Mata kuliah dengan karakter seperti itulah yang laku dalam "pusat belanja ilmu" di perguruan tinggi.

Dagangan di Mall Bernasib Lebih Baik

Di akhir tahun, pusat-pusat belanja biasanya mengobral barang-barang lama yang tidak laku sepanjang tahun. Tetapi, mata kuliah yang tidak laku sepanjang tahun tidak mungkin diobral seperti itu.

Bagi professor yang tidak laku mata kuliahnya tidak punya pilihan lain kecuali tidak mengajar. Dua tiga kali jualannya tidak laku, pasti terancam dipecat dari tempat kerja.

Berlajar dari peristiwa seperti ini, mungkin kita perlu melakukan inovasi sistem yang mampu menyeimbangkan antara kemuliaan ilmu dan hedonisme pasar.


1 comments:

Rais Misi February 16, 2010 5:44 PM  

Memang benar saat ini dan akan datang kita sebagai agen pengetahuan hendaknya menyadari diri arti pentingnya REVOLUSI BELAJAR/MENGAJAR. Sangat perlu dosen melakukan inovasi pembelajaran, dengan mungkin mengganti nama dan substansi matakuliahnya menjadi lebih "TREND". Solusi bagi dosen yang tidak laku-laku mata kuliahnya mungkin demikian, melalui suatu promosi, mata kuliah tersebut perlu direnewable cover dan kontenya. Dosen suka tidak suka HARUS melakukan REVOLUSI dengan mengubah COVER dan ISINYA. Asal jangan OPERASI aja,,,ha..ha..ha. Good Luck my friend

opinion Indonesia education reflection university comment capitalism sociology inequality school study America Marx book review higher education justice gender neoliberalism news analysis student American university BHP Bourdieu China Islam Korea Opini SBY Singapore UN Weber democratization equality favorire schools industrialization national exams news social justice ujian ujian nasional university ranking Aceh Adam Smith Asia Banyu Berlin Communist Manifesto Comte DIKNAS DPR Dian Harapan Elizabeth Warren Foucault Fulbright German Giddens Goffman Hagen Koo Hawaii Hobbes Hongkong IT India Indonesian scientist Indonesian student Islamic University Kathmandu Korean Workers Lentera Harapan Lerner Locke MUI Mark Liechty Mills Morris Brown College Nepal Pakistan Parsons Pelita Harapan Perwita Rousseau Syafi'i Maarif Taiwan UI University of California WIZMIC access accountability achievement agent-centered theory agents bahasa blogger blogging boarding school bom class college commet corruption court crime cultural reproduction discourse earthquake economic crisis edublog educational blog elite theory entrepreneurship ethnography evaluation event examination familiy free market furlough habitus history income industry internet korupsi labour laskar pelangi mathematic international competition methods middle-class migrant migrant labor ministery of education modernization multiculturalism narrative new order olimpiade internasional organizatinal change organization paripurna pendidikan penjara pesantren plagiat police politics poverty ranking research right schooling schools sciences social class sociological imagination structuration student tracking suicide teacher top university woman working class
Protected by Copyscape plagiarism checker - duplicate content and unique article detection software. Free Page Rank Tool

  © Blogger template Coozie by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP