Ketika Perguruan Tinggi Menjadi "Mall"
Tiba di bagian kemahasiswaan, terdengar berita bahwa kelas "favorit" itu dibatalkan karena jumlah mahasiswa "pembelinya" tidak mencukupi batas minimal yang ditetapkan pihak universitas.
Ketiga mahasiswa tersebut diarahkan menemui langsung sang professor di ruang kerjanya. Muka suram, mata berkaca-kaca tergambar dari raut wajah sang professor yang selama ini selalu terlihat ceria. Professor yang dikenal cerdas dan kredibel dalam bidangnya itu berkali-kali mengucapkan kata "maaf".
Rupanya, dia tak menyangka bahwa mata kuliahnya tidak laku "terjual".
Kepuasan Paling Penting
Mata kuliah dalam sistem pendidikan yang menganut sistem pasar tak ubahnya barang pajangan di pusat-pusat belanja. Hanya barang yang manarik selera pembeli akan laku. Laku atau tidaknya pun ditentukan banyak faktor.
Tetapi aspek yang paling menentukan adalah tingkat kenikmatan dan kepuasan.
Apabila masyarakat pembelinya terdiri dari orang-orang berekonomi lemah, berselera tinggi, yang dicari barang paling murah dengan harapan kualitas tinggi. Pelanggan berduit mencari barang yang punya nilai dan cita rasa yang menggambarkan kelas sosialnya.
Rupanya mata kuliah pun demikian. Mahasiswa punya kecenderungan memilih mata kuliah yang mudah dapat nilai. Soal kualitas urusan belakang. Apalagi, mata kuliah yang berkualitas biasanya susah dapat nilai baik. Kalau pun bisa dapat nilai baik, harus bekerja keras. Akibatnya, sebaik apapun kualitas suatu mata kuliah; diajarkan seorang professor punya kredibilitas tinggi dalam bidangnya, tidak akan laku terjual. Sebab, dianggap tidak dapat mendatangkan kesenangan maksimal.
Kesenangan maksimal bagi mahasiswa adalah proses belajar yang tidak membebani sama sekali. Pada saat yang sama, tidak sulit mendapatkan nilai sangat baik.
Mata kuliah dengan karakter seperti itulah yang laku dalam "pusat belanja ilmu" di perguruan tinggi.
Dagangan di Mall Bernasib Lebih Baik
Di akhir tahun, pusat-pusat belanja biasanya mengobral barang-barang lama yang tidak laku sepanjang tahun. Tetapi, mata kuliah yang tidak laku sepanjang tahun tidak mungkin diobral seperti itu.
Bagi professor yang tidak laku mata kuliahnya tidak punya pilihan lain kecuali tidak mengajar. Dua tiga kali jualannya tidak laku, pasti terancam dipecat dari tempat kerja.
Berlajar dari peristiwa seperti ini, mungkin kita perlu melakukan inovasi sistem yang mampu menyeimbangkan antara kemuliaan ilmu dan hedonisme pasar.


Post a Comment